Mengenang Kenangan

Writer: nDaru Bektari

Ilustrasi adalah lukisan milik seniman: Guzman

Entah kapan terakhir kalinya aku bermain layang-layang. Mungkin saat SD, atau bahkan lebih kecil dari itu. Yang sangat jelas kuingat, langit sore yang teramat luas untuk dipandang. Jauuuhhhh … lebih luas dari jika memandang langit sekarang yang selalu berbingkai kabel atau bangunan menjulang tinggi. Begitu juga angin, yang entah kenapa ia selalu saja datang begitu kami selesai merakit rangka bambu.

Dulu, layang-layang kami bukan layang-layang sebagus sekarang. Terlalu mahal. Tak terbeli. Kami selalu membuat sendiri. Mencuri sedikit bambu dari halaman Paman Udin, atau dari halaman Nenek Romlah. Benang meminta sisa dari tetangga yang penjahit, atau kadang sengaja melolosi kain milik ibu. Kertas minyak pun kami tak mampu membeli, kami memakai koran bekas yang bisa didapat dari rumah Pak Haji. Kadang juga harus rela menunggu tukang bangunan yang bekerja, untuk sekadar meminta sisa bungkus semennya. Pokoknya … apa pun bisa terbang.

Aku selalu kebagian tugas memegang gulungan benang. Katanya tanganku lebih sabar. Padahal sebenarnya aku takut jika benang putus. Sebab kalau putus, layang-layang itu akan pergi ke mana saja mengikuti angin, sementara kami hanya bisa berlari sambil berteriak, berharap ia tersangkut di pohon sebelum hilang terlalu jauh.

Lucu juga kalau dipikir sekarang. Kami bisa tertawa hanya karena mengejar selembar kertas yang terbang di langit. Tak ada telepon genggam. Tak ada internet. Tak ada yang sibuk memotret makanan sebelum dimakan. Yang ada hanya kaki-kaki kecil berdebu, baju yang penuh keringat, dan ibu yang berteriak dari depan rumah ketika matahari mulai tenggelam.

“Hayooo … pulang! Besok sekolah!”

Kami pura-pura tidak mendengar.

Langit sore selalu terasa terlalu indah untuk ditinggalkan. Kami lasak bermain sampai ibu membawakan ranting untuk memukul kaki-kaki kami yang sudah berwarna tembaga.

Sekarang semuanya berubah. Lapangan tempat kami bermain sudah menjadi deretan rumah. Pohon mangga tempat layang-layang sering tersangkut sudah lama ditebang. Anak-anak yang dulu berlari bersamaku, entah tinggal di kota mana. Ada yang menjadi guru, ada yang merantau, ada yang bahkan sudah lebih dulu dipanggil pulang oleh Tuhan.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka juga masih mengingat sore-sore itu?

Apakah mereka masih ingat bagaimana rasanya berlari tanpa memikirkan besok harus menjadi apa?

Apakah mereka masih ingat bau rumput yang baru dipotong, suara jangkrik yang mulai bernyanyi menjelang malam, atau rasa bangga ketika layang-layang buatan sendiri mampu terbang lebih tinggi daripada milik anak kampung sebelah?

Barangkali tidak.

Atau mungkin mereka mengingatnya diam-diam, seperti aku.

Ada kenangan yang tak pernah berhenti untuk minta dikenang, karena waktu terus berjalan. Ia kemudian menetap, pelan-pelan menjadi bagian dari diri kita. Kita boleh bertambah usia, rambut mulai dipenuhi uban, langkah tak lagi secepat dulu, tetapi di suatu tempat yang tidak pernah bisa dijangkau siapa pun, anak kecil itu masih ada. Ia masih berlari sambil menengadah ke langit, masih menggenggam benang dengan kedua tangan, masih percaya bahwa angin selalu berpihak pada siapa pun yang berani menerbangkan harapan.

Aku mulai memahami, ternyata yang paling kurindukan bukan layang-layangnya.

Bukan pula sore harinya.

Yang kurindukan adalah diriku sendiri.

Diriku yang belum mengenal gagal.

Belum mengenal kehilangan.

Belum tahu bahwa orang-orang yang kita sayangi suatu hari bisa pergi tanpa sempat berpamitan.

Belum tahu bahwa hidup akan meminta begitu banyak hal untuk ditinggalkan.

Seandainya waktu bisa diputar, mungkin aku tidak akan meminta menjadi kaya. Tidak juga meminta hidup yang lebih mudah. Aku hanya ingin sekali lagi berdiri di tanah lapang itu. Membiarkan angin meniup wajahku. Mendengar teman-teman memanggil namaku. Lalu berlari sekencang mungkin mengejar layang-layang yang mulai naik sedikit demi sedikit.

Karena sekarang aku mengerti.

Yang terbang tinggi waktu itu bukan hanya layang-layang.

Melainkan masa kecilku.

Dan ketika benangnya perlahan lepas dari genggaman, tanpa kusadari, aku sedang belajar menjadi dewasa.

Kini, setiap kali langit berubah kuning keemasan seperti menjelang senja, mataku selalu mencarinya. Tidak saja karena berharap ada layang-layang yang masih menunggu untuk kuterbangkan, melainkan karena aku tahu, di balik warna langit itu, ada kenangan yang diam-diam masih memanggil namaku. Kenangan yang seperti memastikan bahwa aku tidak lupa pernah menjadi anak kecil yang bahagia dengan hal-hal yang sangat sederhana.

Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Selalu berjalan beriringan dengan waktu dan perjalanan kita.  Mengingatkan bahwa sejauh apa pun langkah melangkah, selalu ada masa ketika kebahagiaan cukup sesederhana seutas benang, sebidang langit, dan keyakinan bahwa selama angin masih berembus, harapan akan selalu menemukan jalan untuk terbang.

Bukit Dago, 11 Juli 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop