Suara yang Memanggil

Writer: nDaru Bektari

Ilustrasi: Green Forest; Artist: Erwin Erlangga

Menurutku, hutan bukanlah sesuatu yang sunyi. Karena yang sunyi adalah, manusia yang tak lagi mau dan mampu mendengar.

Aku lahir di kaki Gunung Slamet, di sebuah kampung yang bahkan tidak muncul di peta. Kalau orang bertanya alamat, kami cukup menjawab, “Setelah jembatan bambu, belok kiri, nanti ada pohon beringin besar.” Semua orang pasti tahu.

Di kampungku ada satu tempat yang tidak pernah kami datangi setelah matahari tenggelam. Namanya Hutan Hijau. Orang-orang kota menyebutnya hutan lindung. Orang-orang tua di kampung menyebutnya rumah. Rumah siapa, tidak pernah ada yang mau menjelaskan, meski berkali-kali aku merengek meminta keterangan pada ayah.

Yang jelas, setiap sore sebelum Magrib, para pencari kayu selalu pulang. Pemburu juga begitu. Bahkan sapi-sapi milik warga seolah mengerti sendiri jalan keluar sebelum langit berubah jingga. Sepertinya, tak ada yang berani pulang lambat, selain ayahku. Rumor apa pun mengenai Hutan Hijau atau kejadian di luar logika, ayah tak mempercayainya. Baginya hutan hanyalah sekumpulan pohon, dan suara-suara aneh yang terdengar, mungkin saja sekelompok burung malam. Bayangan yang kadang nampak menyeramkan di mata orang lain, baginya hanyalah kelebatan rusa atau babi hutan.

“Apa yang kalian takutkan?” katanya suatu malam sambil menyeruput kopi, ketika ibu menegurnya, “kalau memang ada penunggunya, sudah dari dulu bapak diajak ngobrol.”

Ibu hanya diam. Nenek yang duduk di sudut dapur berhenti mengipasi tungku, menatap ayah dengan tatapan dalam.

“Lain kali kalau masuk hutan, jangan pernah bersiul.”

Ayah tertawa, “Kenapa? Takut ada yang nyahut?”

Nenek tidak menjawab. Ia hanya memandang api, sedikit termangu. Aku sendiri, memandangi raut wajah mereka dengan penasaran.

Seminggu kemudian ayah benar-benar terlambat pulang. Biasanya selepas Asar ia sudah tiba membawa kayu bakar. Hari itu langit sudah gelap, sementara hujan turun tipis. Ibu mulai mondar-mandir di teras. Sementara aku yang baru kelas lima SD, belum mengerti kenapa wajah orang dewasa bisa berubah secepat itu.

Sekitar pukul delapan malam, terdengar langkah kaki. Ayah pulang. Bajunya basah. Celananya penuh lumpur. Kapak masih tergenggam di tangan. Wajahnya pucat.

“Ada apa, Pak?” tanya ibu.

Ayah tidak menjawab, hanya berjalan masuk tanpa suara lalu duduk. Ia meraih kendi dan meminum isinya sampai habis tanpa berhenti.

“Pak?”

Ayah masih diam. Agak lama ia menutup matanya. Baru setelah napasnya mulai teratur, ia berkata lirih.

“Aku tersesat.”

Ibu mengerutkan dahi.

“Mana mungkin? Bukannya jalannya cuma satu?”

“Itu yang aneh.”

Ayah mengusap wajah.

“Aku jalan lurus. Berkali-kali. Tapi selalu kembali ke pohon yang sama.”

Aku melihat tangan ayah gemetar, dan itu kupastikan baru pertama kali seumur hidup. Ayahku tak memiliki rasa takut.

“Ada yang memanggil?” tanya nenek.

Ayah langsung menoleh. Wajahnya pucat.

“Ada.”

“Siapa?”

“Suaramu.”

Semua orang membeku, memandang nenek dan kemudians aling berpandangan. Padahal sejak pagi nenek tidak pernah meninggalkan rumah.

Sejak malam itu, ayah berubah. Ia masih pergi mencari kayu, tetapi tidak pernah lagi masuk terlalu jauh. Ia tidak lagi bersiul, tidak lagi menebang pohon besar. Dan yang paling aneh … setiap hari ia selalu mengunci pintu sebelum Magrib.

Suatu malam aku bertanya dengan suara pelan, “Pak … memang ada apa di hutan?”

Ayah lama tidak menjawab, lalu ia berkata lirih.

“Hutan itu hidup.”

Aku tertawa kecil.

“Kan pohon memang hidup?”

“Bukan pohonnya.”

“Lalu?”

“Yang tinggal di antara pohon-pohonnya.”

Aku tidak mengerti, dan ayah tidak pernah melanjutkan pembicaraan itu. Lalu aku lupa, terbiasa dengan kebiasaan baru ayah.

Tahun-tahun berlalu, nenek meninggal. Ayah semakin tua dan tampak terlihat lebih tua ketika aku berpamitan merantau ke kota. Cerita mengenai Hutan Hijau kuanggap dongeng belaka, apalagi aku kemudian membaur dengan kehidupan Metropolitan. Sampai akhirnya aku pulang dua puluh tahun kemudian.

Hutan itu masih ada, bahkan tampak lebih hijau, lebih rapi dan jauh lebih indah, seolah tak pernah disentuh waktu. Entah karena rasa yang mana, aku berjalan mendekat. Berdiri di bibir hutan, merasai angin yang berembus pelan dan sejuk. Namun lama kelamaan, semakin kupandang arah hutan, entah kenapa, bentuknya seperti ribuan segitiga yang saling bertumpuk. Mirip gunung-gunung kecil yang tak berujung. Semuanya hijau, bahkan terlalu hijau.

Aku tersenyum sendiri, “Hei, bodoh. Masa masih percaya cerita lama ….”

Lalu aku melangkah masuk. Mengabaikan rasa dingin yang menyentuh ujung kulit. Semula tidak ada yang aneh. Burung berkicau, membawaku kepada puluhan tahun silam, di mana hal itu mudah kudapatkan setiap hari. Sinar matahari masih menembus sela daun, sementara tanah terasa lembap.

Namun makin jauh aku berjalan, warna hijau itu menjadi semakin pekat. Pohon-pohon tumbuh dengan jarak yang hampir sama, padahal itu jelas sebuah kemustahilan. Ukurannya hampir sama. Bentuknya hampir sama. Aku berhenti. Mendadak aku sadar, aku tidak tahu lagi dari arah mana tadi masuk.

Semua arah tampak serupa.

Semua jalan tampak sama.

Seperti pola yang terus berulang.

Hijau.

Kuning.

Hijau.

Kuning.

Hijau.

Kuning.

Tak ada pembeda.

Aku mencoba menandai batang pohon dengan pisau lipat, berjalan beberapa menit, lalu berhenti. Di depanku … ada pohon yang sama, dengan bekas goresanku sendiri. Dadaku mulai sesak, rasa aneh menjalari tubuh. Aku mempercepat langkah … semakin cepat. Semakin jauh. Namun setiap kali berhenti … aku selalu kembali ke tempat itu. Persis seperti cerita ayah puluhan tahun lalu.

Saat itulah kudengar suara yang begitu pelan.

“Lintang ….”

Aku membeku.

“Lintang ….”

Darahku terhenti. Itu suara ayah! Aku mengedarkan pandangan berkeliling. Padahal ayah telah meninggal tiga tahun lalu.

“Lintang ….”

Sekali lagi, kali ini lebih dekat. Aku tidak berani menoleh. Aku ingat pesan nenek.

“Kalau hutan memanggil … jangan pernah menjawab. Jangan pula mencari sumber suaranya.”

Aku memejamkan mata, mengambil napas panjang lalu berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun.

Suara itu berubah. Kini bukan ayah, melainkan ibu. Lalu nenek, dan terakhir … suara masa kecilku sendiri! Semuanya memanggil dengan nada yang sama. Lembut … hangat, seperti permen kapas yang siap memeluk dengan penuh rayuan.

Aku terus berjalan dengan keringat membasahi punggung. Lututku gemetar entah berapa lamanya sambil terus mencoba mencari jalan keluar. Sampai tiba-tiba cahaya matahari muncul di depan. Aku keluar dari hutan, tepat saat azan Magrib berkumandang.

Sejak hari itu aku tidak pernah lagi menganggap hutan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah ingatan, rumah bagi sesuatu yang tak membutuhkan nama. Ia tidak memburu manusia, tidak pula ingin membunuh. Ia mungkin hanya menguji, apakah manusia masih tahu jalan pulang ketika tersesat, atau terlalu sibuk menutup mata sehingga lupa membedakan arah.

Kadang aku masih bermimpi berada di dalam hutan itu. Melihat ribuan segitiga hijau berdiri rapat seperti gunung-gunung kecil yang tak berujung.

Tak ada angin.

Tak ada burung.

Tak ada matahari.

Hanya suara pelan yang selalu memanggil namaku.

Dan setiap kali terbangun, aku selalu bersyukur karena masih berada di ranjangku sendiri.

Sebab aku masih ingat satu kalimat yang pernah diucapkan ayah sebelum meninggal,  kalimat yang baru benar-benar kupahami setelah masuk sendiri ke Hutan Hijau.

“Yang paling berbahaya dari hutan bukan karena kita tidak menemukan jalan keluar. Yang paling berbahaya adalah ketika hutan membuat kita merasa sudah sampai di rumah, padahal kita belum pernah keluar darinya.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop